Kata Pengantar

Abad XXI dicatat sebagai era multi-media, internet atau tsunami informasi. Berbagai media konvensional seperti media cetak, media radio dan televisi sudah terkonvergensi ke dalam laptop, tablet, smart-handphone dan smart-TV. Revolusi internet atau digital telah menjadikan dunia sebagai sebuah desa global. Lalu lintas komunikasi dan informasi pun telah berubah dari kecenderungan satu arah (atas – bawah) dan terpusat, menjadi multi-arah. Setiap orang bisa dengan bebas berkomunikasi dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Kita belum tahu revolusi apa lagi yang akan terjadi dengan 4 G dan WI MAX yang tak lama lagi akan segera dipasarkan.

Berbagai pihak, mulai dari kalangan partai politik, bisnis, kelompok/organisasi agama, organisasi profesi dan keilmuan, kelompok kampanye dan seterusnya, memanfaatkan multi-media dan ruang maya yang terbuka luas tanpa batas waktu dan ruang bagi para penggunanya. Mudah ditebak, yang paling gesit memanfaatkan ruang maya adalah kalangan bisnis dan politik. Di mana kalangan remaja dan anak muda yang paling banyak menggunakan internet.

Semua ini menantang kesiapan gereja untuk memanfaatkan perkembangan era internet ini di dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan ke dalam gereja maupun keluar kepada masyarakat luas, karena penggunaan yang semakin mudah dan menjangkau semua lapisan masyarakat. Yang menjadi persoalan sekarang ini adalah pesan-pesan apa yang penting dan strategis yang akan dikomunikasikan atau dipublikasikan oleh gereja-gereja atau lembaga pelayanan Kristen kepada masyarakat luas yang plural?

Terkait dengan itu YAKOMA-PGI bekerjasama dengan Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) bermaksud menyelenggarakan Konsultasi Nasional Gereja dan Komunikasi. YAKOMA-PGI sendiri sejak berdiri melalui mandat gereja-gereja di Indonesia, sudah menyelenggarakan 4 (empat) kali Konsultasi Nasional Gereja dan Komunikasi dan 4 (empat) kali Pekan Komunikasi Kristen sejalan dengan mandat gereja-gereja di Indonesia. Konsultasi Nasional Gereja dan Komunikasi pertama diselenggarakan di Klender – Jakarta tahun 1976 dengan tema “Strategi Komunikasi Massa”, kedua tahun 1987 di Sukabumi dengan tema “Komunikasi untuk Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan”, ketiga tahun 1992 di Makasar bertema “Komunikasi Untuk Martabat Manusia” dan keempat di Jakarta tahun 2010 bertema “Allah Itu Baik Kepada Semua Orang”. Semua kegiatan tersebut mencoba memetakan persoalan-persoalan pada ruang dan waktu serta sekaligus merumuskan respons dan refleksi gereja atasnya. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah, semua diselenggarakan sebelum internet menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat modern Indonesia.

Sejalan dengan arak-arakan oikoumenis gereja-gereja sedunia, Konsultasi Nasional V Gereja dan Komunikasi mengangkat tema, “Allah Kehidupan, Pimpin Kami Mewartakan Keadilan dan Perdamaian.” Tema ini hendak menggarisbawahi bahwa gereja/umat Kristen selaku pewarta Kabar Baik harus menjadi berkat bagi kehidupan – mewartakan keadilan dan perdamaian – bukan semata untuk lingkungan Kristen, tetapi juga kepada orang- orang lain dan ciptaan Allah lainnya.

Dari konsultasi nasional ke konsultasi nasional, yang secara khusus membahas persoalan-persoalan di seputar gereja dan media (cetak, radio, audio-visual, daring) belum pernah diselenggarakan. Kendati posisi dan fungsi strategis media diakui, namun para pekerja media (berbasis) gereja maupun media Kristen belum pernah duduk bersama dalam sebuah forum untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, serta visi-misi dan strategi. Padahal jumlah media gereja dan media Kristen mencapai ratusan. Masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan permasalahannya dan tidak berjejaring oikoumenis untuk menyinergikan peluang dan kekuatan. Ada media gereja dan media Kristen yang sudah sedemikian profesional pengelolaannya, ada yang dikelola seadanya saja dan kerap terlambat terbit, ada pula yang “hidup segan mati tak mau”.

Dari pengalaman YAKOMA-PGI menyelenggarakan lokakarya-lokakarya media komunitas selama satu dasawarsa terakhir, diperoleh gambaran bahwa mayoritas sinode/gereja belum mengembangkan medianya dengan sebaik-baiknya. Sejumlah masalah terkait siklus hidup media gereja terkuak: mulai dari ketiadaan visi media yang jelas, tema tak digarap serius, perekrutan pekerja media yang asal saja tanpa pelatihan lebih dulu, pengelolaan media yang sambil lalu dan rangkap jabatan, pekerja yang direkrut tanpa pembekalan yang memadai, isi media yang merupakan corong sinode sehingga kering, membosankan dan akhirnya tak dibaca, rendahnya minat baca dan menulis, dan seterusnya.

Dari percakapan dengan para peserta lokakarya diketahui bahwa peningkatan mutu media gereja memerlukan pendekatan dua arah: pekerja media dan pemimpin di aras pengambilan keputusan organisasi gereja. Pekerja media perlu diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilannya dengan dasar-dasar pengelolaan media seperti jurnalisme, menyunting, menata letak, fotografi, pemasaran dan seterusnya. Sedangkan para pemimpin gereja juga perlu mengetahui posisi dan fungsi strategis media gereja dan strategi komunikasi dan media di tengah-tengah masyarakat yang plural.

Dalam era otonomi daerah dan demokrasi, posisi dan peran strategis media gereja semakin penting sebagai “juru bicara” dalam menyosialisasikan pandangan gereja terhadap isu-isu penting dan terkini misalnya HAM, demokrasi, korupsi, gereja/pendeta dan politik, dan seterusnya. Ada kesan bahwa tanggapan dan refleksi terhadap isu-isu sedemikian dilimpahkan kepada PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) untuk merumuskannya dan sekaligus menyebarkannya ke gereja-gereja antara lain melalui majalah Berita Oikoumene.

Seorang pekerja media gereja pernah mengungkapkan bahwa gerejanya memang tidak berani memuat isu-isu sensitif karena pandangan bahwa gereja tidak berpolitik. Yang lain menggarisbawahi bahwa kini bukan saatnya lagi media gereja dan media Kristen berjalan sendiri-sendiri, sebab peluang dan tantangan bersama di era digital dan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang plural perlu disikapi bersama-sama.

Dalam konteks pertarungan penyebarluasan informasi, berbagai pihak, mulai dari partai politik, bisnis, kelompok/organisasi agama, organisasi profesi dan keilmuan, kelompok kampanye dan seterusnya, memanfaatkan multi media dan ruang maya yang terbuka luas tanpa batas waktu dan ruang. Mudah ditebak, yang paling gesit memanfaatkan ruang maya adalah kalangan bisnis dan politik. Kepedulian gereja-gereja terhadap posisi dan fungsi strategis media dapat disaksikan dari media yang ada di lingkungannya entah cetak, radio, media daring, bahkan juga dari keikutsertaan dalam penyelenggaraan acara mimbar agama di televisi dan Facebook. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah gereja-gereja telah memanfaatkan media yang ada secara maksimal?

Sejauh ini tak tampak strategi media gereja menghadapi era multimedia dan internet. Media gereja dikelola secara sambil lalu, sebagai pekerjaan sampingan, dan karenanya “asal ada ketimbang tidak ada”. Warga jemaat juga tidak diajak untuk hidup sadar dan waspada terhadap gempuran media massa agar tidak menjadi korban-korban misalnya iklan atau informasi yang bias. Di sisi lain, warga jemaat di daerah-daerah yang infrastruktur telekomunikasinya jauh dari memadai memperoleh pengetahuan dan informasi terkait iman Kristen dan ajaran gereja semata berdasarkan media tradisional seperti kotbah-kotbah, katekisasi, dan Penelaahan Alkitab.

Sehubungan dengan permasalahan di atas, YAKOMA-PGI bekerjasama dengan beberapa gereja/lembaga media di Jabodetabek bermaksud menyelenggarakan Konsultasi Nasional Gereja dan Media. Tema yang dipilih adalah “Allah Kehidupan, Pimpin Kami Mewartakan Keadilan dan Perdamaian.” Tema ini hendak menggarisbawahi bahwa media gereja dan media Kristen selaku pewarta Kabar Baik harus menjadi berkat bagi kehidupan – mewartakan keadilan dan perdamaian – bukan semata untuk lingkungan Kristen, tetapi juga agama-agama lain dan ciptaan Allah lainnya. Kehidupan yang dimaksud tak semata bersifat antropologis (berpusat pada manusia) tetapi juga ekologis. Dengan tema ini kita diingatkan bahwa “Tuhan itu baik kepada semua orang dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNya.” (Maz. 145: 9).

Tujuan

Memetakan tantangan-tantangan dan peluang-peluang yang dihadapi oleh media gereja dan media Kristen terutama dalam menghadapi multi media dan internet

Merumuskan refleksi teologis maupun faktual tentang peran dan fungsi media gereja dan media Kristen

Membangun dan memperkuat jejaring yang sinergis media gereja dan media Kristen untuk proses saling belajar dan RTL bersama yang merupakan karya bersama.

Penyelenggara

YAKOMA-PGI bekerjasama dengan Gereja Bethel Indonesia (GBI).

Peserta

Pengelola, pekerja, pemimpin media gereja dan Kristen (radio, cetak, daring, audiopvisual pengambil
keputusan), pengelola media rakyat (teater), pemimpin gereja di aras sinode.

Alur Lokakarya

Tahap 1

Penggalian dan pemahaman tema Konsultasi Nasional “Allah Kehidupan, Pimpin Kami Mewartakan Keadilan dan Perdamaian” dan Pemetaan Perubahan Media massa (Kekuatan, Kebijakan dan Orientasi, Konten, Perngelolaan, Format) di Indonesia sebelum dan pascareformasi. Pada tahap ini peserta mampu mengidentifikasikan permasalahan, perubahan, tantangan, serta peluang.

Tahap 2

Kebijakan infokom pemerintah pascareformasi. Pada sesi ini peserta diperlengkapi dengan informasi seputar kebijakan-kebijakan pemerintah terkait infokom, prioritas, tujuan dan target agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat berbasis informasi dan pengetahuan. Informasi kebijakan ini diharapkan membuka horizon tentang kebijakan infokom dan dampaknya bagi media massa, media sosial atau media baru dan media komunitas.

Tahap 3

Media massa dan media komunitas merespons perubahan: (1) Bagaimana media massa komersial seperti stasiun televisi dan radio merespons era globalisasi, internet dan pluralitas media yang mengubah secara total lalu lintas komunikasi dan informasi dari yang terpusat dan satu arah menuju ke populis, dua arah dan nonprofit sebagaimana media baru atau media sosial. (2) Bagaimana media komunitas keagamaan yang berorientasi nonprofit merespon era globalisasi, internet dan pluralitas media? Bagaimana mereka memosisikan diri (visi, misi, strategi).

Tahap 4

Perspektif Bermedia: Pengalaman Media Difabel dan Masyarakat Adat-Lingkungan Hidup

Media tak lepas dari bias-bias tertentu. Kerap media melakukan reviktimisasi terhadap korban dan kelompok marjinal (ODHA, difabel, perempuan, masyarakat adat) melalui pilihan-pilihan kata dan konstruksi narasi berita. Di sisi lain, orientasi bisnis juga menjadi filter dalam pemilihan berita yang diminati oleh masyarakat luas. Berita-berita tentang politik, bisnis, perang/konflik menjadi pilihan utama.

Kini kita hidup dalam lingkungan media yang mengepung kita selama 24 jam memerlukan sikap kritis. Kritis tak hanya berarti mampu mewaspadai berbagai konten media, namun juga mampu mengelola penerbitan media khusus bagi kelompok-kelompok marjinal yang persoalan-persoalannya dipinggirkan oleh media massa yang berorientasi bisnis, seperti masyarakat adat dan difabel. Berbagi visi dan misi keadilan bagi kelompok marjinal melalui penerbitan media diharapkan dapat membuka wawasan bagaimana media memosisikan diri di tengah-tengah gempuran media massa berorientasi bisnis dan eforia gerakan media sosial.

Penggalian dan Perumusan Masalah (Diskusi Terfokus Kelompok)

Peserta dibagi dalam empat kelompok yang menggali tiga fungsi majalah gereja dan majalah Kristen yang tampak dalam penerbitan: humas (internal), penginjilan, perubahan sosial. Satu kelompok akan merumuskan pesan konsultasi nasional tentang gereja dan komunikasi.

Pleno dan Tanggapan

Tiap-tiap kelompok menyajikan hasil-hasil diskusi untuk ditanggapi oleh seluruh peserta. Hasil-hasil diskusi kelompok kemudian ditulis ulang untuk direvisi berdasarkan masukan-masukan para peserta.
Seluruh materi Konsultasi Nasional akan dibukukan dalam bentuk format cetak maupun digital. Format cetak akan dikirim ke pada para peserta dan sinode-sinode gereja. Hasil Konsultasi Nasional akan menjadi bahan masukan pada Sidang Raya PGI 2014 di Nias, Sumatra Utara.