Pertama-tama saya mengucapkan Selamat Datang kepada Bapak-Ibu dan Saudara sekalian peserta Konsultasi Nasional Gereja dan Komunikasi yang bertajuk “Allah Kehidupan, Pimpin Kami Mewartakan Keadilan dan Perdamaian”.

Selama beberapa hari ini kita akan sama-sama berkonsultasi, yang sebenarnya lebih tepat dimaknakan sebagai saling belajar, saling bertukar dan saling memerkaya dalam pengetahuan, pemikiran dan pengalaman di bidang komunikasi dan secara khusus media.

Sebagaimana kita sama-sama ketahui, dunia dan pola kehidupan manusia dewasa ini telah banyak berubah. “Globalisasi”, itulah fenomena yang terjadi dan sekaligus istilah yang sudah kerap kita dengar. Sebenarnya proses mengglobal itu sudah cukup lama bergulir, tapi ia masih terus berjalan hingga kini dan akan terus berjalan ke depan entah sampai kapan dan ke mana arahnya. Yang jelas, kita harus berupaya mengikutinya kalau tak mau tertinggal atau ketinggalan zaman yang terus-menerus berubah ini.

Faktanya kita sekarang hidup di era multi-media, dengan revolusi internet, yang membuat arus deras informasi dan ide begitu mudahnya masuk dan keluar dari benak kita. Berbagai media konvensional seperti media cetak, radio dan televisi kini sudah terkonvergensi ke dalam laptop, tablet, smart-handphone dan smart-TV. Semua yang kita perlukan demi memuaskan keingintahuan kita begitu mudahnya didapat, karena semuanya tersedia di ruang maya (cyber spaces). Kita merasa senang karena kita sungguh merasa terbantu dengan pelbagai kemudahan itu. Namun kita juga khawatir, mengingat dampak-dampaknya yang negatif selalu mengintai dan siap menjadi ancaman yang potensial merusak pola interaksi dan komunikasi antarpersonal kita selama ini. Bukan kehidupan sosial kita saja yang kelak bisa berubah, bahkan kehidupan bergereja pun bisa saja “dipaksa” berubah karenanya. Di titik itulah kita mungkin merasa cemas menatap masa depan yang kian tak pasti. Namun alih-alih menghindarinya, lebih bijaklah jika kita berupaya secara cerdik mengikutinya seraya berharap kita bisa juga memanfaatkannya.

Kalau kita bicara secara khusus tentang pers, di negara ini kita sudah mengalami dua era, yakni Orde Lama dan Orde Baru, yang iklim persnya kurang menggembirakan atau bahkan suram. Sebab, dominasi penguasa dalam hampir seluruh aspek kehidupan dan infrastruktur politik di kedua era itu begitu kuatnya. Di satu sisi suara-suara kritis rakyat dibungkam, di sisi lain suara-suara penguasa memonopoli kebutuhan rakyat akan informasi. Untuk kepentingan politik hegemoni dan a-politisasi masyarakat itulah maka pers di kedua era itu dijadikan perpanjangan tangan penguasa. Tak heran kalau bahasa yang digunakan kerap bermakna ganda, baik untuk tujuan penghalusan maupun demi kepentingan memperdayakan rakyat.

Namun, dinamika proses politik yang telah berjalan selama puluhan tahun itu kini telah mengantar kita tiba di sebuah era baru yang oleh banyak orang disebut sebagai Era Reformasi. Sejak rezim Orde Baru berlalu, pengelolaan negara berjalan bagaikan tanpa arah yang jelas. Namun satu hal yang pasti, kebebasan kini terbuka lebar. Karena perubahan itulah maka sistem pers pun turut berubah — sebagai dampaknya. Jika di kedua era sebelumnya telah terjadi banyak pembredelan maupun pembungkaman pers oleh pemerintah demi “stabilitas nasional”, kini situasinya jauh berbeda: pers kian bergairah. Alhasil, jumlah pers pun tak bisa lagi secara pasti dihitung. Sebab selalu saja ada yang baru, apalagi pers yang kini sudah mengambil rupa baru: maya alias on-line . Siapa pun bisa membuatnya dan siapa pun bisa bersuara apa saja di sana.

Di satu sisi kita patut merayakan perubahan yang semakin menekankan nilai kebebasan itu, namun di sisi lain kita juga pantas merasa khawatir karena di balik itu ada tabiat-tabiat baru yang muncul dan sayangnya negatif: mudahnya mencaci-maki dan bahkan berkata-kata kotor, mudahnya beropini tanpa didukung bukti dan nalar yang kritis, dan hal-hal lain yang sejenisnya. Di sinilah kita, sebagai gereja dan lembaga paragereja, tertantang untuk mampu mengawal perubahan-perubahan itu. Kita tertantang untuk mampu menggarami media-media di sekitar kita dengan prinsip “media perdamaian dan keadilan”. Memang, media-media harus tetap informatif dan edukatif, dengan sementara itu tetap menjujung tinggi kebebasan karena media dewasa ini telah menjadi pilar keempat demokrasi (media sebagai “watchdog” bagi penguasa). Namun sejalan dengan itu, bisakah media-media juga tetap menjadi wahana untuk menyebarkan ide-ide dan nilai-nilai perdamaian dan keadilan kepada publik?

Kiranya hal penting ini dapat menjadi perhatian kita selama beberapa hari duduk bersama dalam acara Konsultasi Nasional ini. Sepulangnya dari sini, kita terpanggil untuk meneruskan pesan-pesan yang kita dapatkan selama beberapa hari ini kepada gereja, lembaga paragereja, dan publik di mana kita menjadi bagian di dalamnya. Kita berharap peran kita sebagai Kristen, pengikut Kritus, dapat lebih strategis lagi dalam rangka mewartakan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Mungkin itu kita lakukan melalui media cetak, radio, atau bahkan televisi, namun mungkin juga melalui media on-line atau bahkan media sosial yang relatif murah dan mudah tapi tetap berdampak penting bagi masyarakat sekitar kita.

Akhirnya, atas nama YAKOMA-PGI, saya mengucapkan Selamat Berkonsultasi kepada kita semua. Terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan pihak-pihak lain yang tak bisa disebutkan namanya satu-persatu di sini.

Tuhan memberkati.

Ketua Pengurus

Dr. Victor Silaen