Prinsip-prinsip Kristen di bidang komunikasi

Komunikasi berperan penting dalam membangun komunikasi, keamanan dan identitas sekaligus mempromosikan keadilan, saling bertanggungjawab dan transparansi. Komunikasi penting untuk kebaikan bersama. Berdasarkan keyakinan  ini, ada tujuh prinsip pemandu yang perlu disimak:

  • Komunikasi adalah Suatu Latihan Spiritual
  • Komunikasi membangun dan membentuk komunitas
  • Komunikasi memperluas partisipasi
  • Komunikasi mempromosikan kebebaban dan menuntut akuntabilitas
  • Komunikasi merayakan keragaman budaya 
  • Komunikasi membangun jejaring
  • Komunikasi meneguhkan keadilan dan menantang ketidakadilan

 

  1. Komunikasi Sebagai Latihan Spiritual

Komunikasi merupakan suatu fungsi transendensi. Ada kesakralan dalam penciptaan makna bersama di mana komunikasi  merefleksikan nilai-nilai spiritual di  jantung identitas manusia. Penciptaan makna bersama adalah sebuah perjalanan berbagi bersama orang-orang dengan  iman yang berbeda maupun yang tidak beriman. Dalam hal ini Yesus adalah sebuah model bagi komunikasi. Dalam Yesus, Allah menjadi satu dengan umat manusia dan mengalami  hubungan antarmanusia yang mengagumkan. Dalam Yesus, Allah menjadi bagian dari sejarah manusia dan meneguhkan nilai esensial komunitas dan budaya. Yesus hidup berbela rasa kepada orang-orang miskin, orang-orang yang sakit dan tersingkir, dan ia menantang yang berkuasa untuk melayani mereka yang membutuhkan. Dalam Yesus, Allah mengalami keputusasaan dan penderitaan yang diakibatkan oleh ketidakadilan. Dalam Yesus, Allah mengangkat harapan penyembuhan dan penggenapan tentang hidup berkelimpahan bagi semua. Tradisi Kristen tak memiliki monopoli terhadap nilai-nilai tersebut; nilai-nilai tersebut juga dikenal semua orang termasuk dari iman yang berbeda. Studi dan dialog antariman adalah wujud dari berbagi nilai-nilai.

  1. Komunikasi Membangun dan Membentuk Komunitas

 

Komunikasi adalah ikatan tak terlihat yang menggenggam komunitas-komunitas secara bersama-sama. Kata kerja Latin  communicare berarti  berbagi, membuat menjadi milik bersama sehingga  beralih menjadi properti komunal.

Komunitas-komunitas yang dibentuk oleh communicatio berbagi  sumber-sumber spiritual dan material, berbagi tujuan-tujuan etis dalam rangka hidup bersama dan hubungan-hubungan yang diupayakan untuk dibangun.  Ini merupakan pengalaman gereja Kristen mula-mula di mana “Semua orang percaya bersatu  dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Mereka menjual kekayaan menjadi milik bersama. Mereka menjual milik mereka dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan.” (Kisah 2: 44-45).

Kehidupan komunitas diperkaya oleh dialog yang terbuka, jujur dan transparan tentang keputusan-keputusan dan peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi para anggotanya. Hal ini juga berlaku bagi kehidupan dalam rukun tetangga atau kampung, kota, komunitas religius dan komunitas bangsa-bangsa. Hubungan-hubungan dalam komunitas diciptakan dan diperkuat melalui percakapan temu muka, media komunitas yang dikelola oleh dan untuk anggota-anggotanya, dan media sosial yang memampukan partisipasi sejati mengenai pertanyaan-pertanyaan politis, sosial dan budaya demi kemaslahatan bersama.

Ketimbang mempersatukan rakyat dan menolong mereka memahami kepentingan-kepentingan bersama, sebaliknya media massa justru mengasingkan dan memecahbelah. Di mana tidak ada kendala-kendala atau tekanan-tekanan, media sosial atau alternatif dapat membantu merevitalisasikan komunitas-komunitas dan menghidupkan hubungan-hubungan karena mereka mewakili cara-cara berkomunikasi yang terbuka dan inklusif ketimbang komunikasi searah dan ekslusif.

Komunitas-komunitas tergantung pada komunikasi untuk meratakan tembok-tembok yang menghalangi mereka mengklaim hak-hak dan keadilan bagi semua – khususnya  penghalang-penghalang ras, jender, kelas, bangsa, kekuasaan dan kekayaan. Komunikasi sejati menyerukan saling bertanggungjawab dipraktikkan dalam komunitas, membangun kepercayaan yang pada gilirannya memperkuat kehidupan komunitas dan mendorong kepada persekutuan. Persekutuan yang tulus terfasilitasi bilamana orang-orang bergabung bersama meneguhkan keragaman, penerimaan dan komitmen kepada satu sama lain memperkaya mereka dan membuat mereka semakin kuat.    

 

  1. Komunikasi Memperluas Partisipasi

Komunikasi partisipatoris terbuka terhadap dialog, pertukaran gagasan-gagasan yang cair dan sebagai hasilnya terjadi transformasi. Komunikasi inklusif  tak cuma mengupayakan membujuk orang-orang  untuk menerima gagasan-gagasan yang belum dipahami. Sebaliknya, percakapan sejati mengubah seluruh peserta; gagasan-gagasan menjadi suatu tugas bersama yang bergerak maju, dicerahkan dan mencerahkan. Partisipasi juga memandu kepada transparansi dan tanggungjawab bersama begitu rakyat memahami bahwa partisipasi mereka dalam konteks kesejahteraan komunitas. Bila komunikasi bersifat inklusif dan mendorong kepada partisipasi, maka ia semakin memperkaya dan menghidupkan  pandangan hidup dan pengalaman-pengalaman bersama. Ruang publik semakin diperkaya dengan  gambar, pemikiran dan sudut pandang. Platform media sosial misalnya, secara dramatis memperluas partisipasi media kendati mereka tak bebas dari logika pasar dan tunduk kepada kepentingan-kepentingan ideologi yang kuat. Dengan alasan ini, penting untuk mempertahankan otonomi, keragaman dan transparasni  peserta dalam kerja media sosial.

Setiap cerita mendapat suatu kesempatan untuk diperhitungkan, dipertanyakan, dibantah dan ditantang..

Stereotipe (cap baku) juga ditantang begitu rakyat memanfaatkan teknologi-teknologi untuk memberlakukan hak mereka untuk berkomunikasi di ruang publik, mengunggah kata-kata dan gambar-gambar secara instan sebagai perintiwa terbuka. Bahaya stereotipe-stereotipe  tak semata bukan hanya hal-hal tersebut tak benar, tetapi  mengasumsikan bahwa sebuah cerita adalah satu-satunya cerita, bahwa sebuah citra menjadi bukti  bagi semua.

Hanya apabila komunikasi bersifat partisipatoris maka komunikasi dapat memberdayakan individu-individu dan komunitas-komunitas untuk menantang struktur-struktur politik, ekonomi dan budaya yang otoriter untuk membantu membangun sebuah dunia yang lebih adil dan damai.

  1. Komunikasi Mempromosikan Kebebasan dan Menuntut Pertanggungjawaban.

 

Di banyak komunitas, penyatuan teknologi-teknologi yang  muncul ke dalam hidup sehari-hari melipatgandakan suara-suara sambil menciptakan ruang-ruang di mana mereka yang dibungkam dan disembunyikan  dapat menyuarakan penderitaan mereka. Komunitas-komunitas memanfaatkan teknologi-teknologi ini, bersama berbagai media tradisional, sebagai perangkat kuat yang dapat dimanfaatkan untuk meminta pertanggungjawaban dan merayakan identitas-identitas khusus mereka. Dalam komunitas-komunitas perkotaan maupun pedesaan, teknologi-teknologi informasi dan komunikasi digunakan untuk memelihara hubungan dengan para sahabat dan keluarga, untuk ekspresi diri yang kreatif, perdagangan, mengakses budaya, berjejaring dan advokasi global.

Di sisi lain, media dan konglomerat teknologi kerap bermitra dengan pemerintah-pemerintah, mempraktikkan pengawasan dan menjalankan tingkat kontrol yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga negara. Lebih jauh lagi, monopoli-monopoli terhubung mengontrol berita, opini dan hiburan, kerap kali untuk mengejar agenda-agenda ideologis yang sempit.  Eksistensi teknologi-teknologi informasi dan komunikasi pada dirinya, tak menjamin bahwa media melayani kebenaran dan kebaikan bersama, dan tak juga menjamin  bahwa setiap orang bisa mengakses platform media. Terlepas dari perangkat-perangkat mereka, monopoli-monopoli media bersekutu dengan para politisi, kerap terlibat dengan penipuan dan manipulasi untuk mengkonsolidasikan dan memelihara kekuasaan mereka. Tindakan-tindakan macam ini merupakan  terhadap martabat manusia dan memperlemah kebebasan individu.

Tradisi Kristen meneguhkan bahwa Allah menganugerahkan semua umat manusia dengan kebebasan dan martabat, dan bahwa Allah memihak orang-orang tertindas dan dipinggirkan, bekerja melalui sejarah demi kebebasan mereka. Allah menginginkan semua orang dimampukan untuk belajar dari dan menafsirkan realitas mereka.

Dewasa ini, komunikasi harus diusung  sebagai hak dasar manusia dan para komunikator dipanggil untuk menerapkan suatu etika kebebasan dan pertanggungjawaban. Kebebasan berekspresi harus dihargai dan kelompok-kelompok komunitas terjamin mengakses teknologi dan platform media. Kurikulum pendidikan harus mencakup program-program literasi media. Ini penting khususnya pada era  perubahan  sosial dan teknologi yang pesat ketika budaya-budaya tradisional perlu mengembangkan strategi-strategi konstruktif untuk menghadapi pengaruh-pengaruh budaya luar.

Bersamaan, prinsip-prinsip tersebut menjamin keragaman suara dan gagasan di hadapan publik dan bahwa publik dapat mengembangkan kriteria yang sehat untuk melihat bagaimana suara-suara dan gambar-gambar berkontribusi bagi kebaikan bersama.

 

  1. Komunikasi Merayakan Keragaman Budaya

 

Budaya adalah keseluruhan dari apa yang dipikirkan sekelompok orang, bagaimana ia berperilaku dan apa yang dihasilkan yang dikomunikasi kepada generasi-generasi masa depan. Budaya adalah apa yang mempersatukan  orang-orang sebagai manusia dan sekaligus memisah-misahkan mereka menjadi komunitas-komunitas yang berbeda.

Dewasa ini semakin penting untuk memahami kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan di antara budaya-budaya. Dengan menghargai kesamaan-kesamaan, masyarakat memahami lebih baik kemanusiaan bersama. Dengan menghargai perbedaan, masyarakat mampu meneguhkan nilai diri  mereka di tengah-tengah komunitas global yang kerap meremehkan pikiran-pikiran tentang identitas budaya.

Komunikasi menciptakan lingkungan simbolik di mana identitas, keragaman dan kemanusiaan dasariah hadir bersama-sama. Komunikasi yang sejati menilai martabat manusia sebagai manusia dan komunitas-komunitas budaya, khususnya dalam hal  bahasa dan iman. Terkt ini, dan kendati homogenisasi akibat globalisasi, banyak orang yang kini menemukan dan mengklaim kembali identitas kultural mereka. Ini penting ketika ingatan kultural, bahasa, agama, gender, usia, etnisitas atau ras dijelek-jelekan  atau ditolak oleh anggota-anggota kelompok budaya lain.

Karena makna diciptakan dan dibagi melalui komunikasi, maka ia dapat menebar   pengertian dan salah paham, harmoni atau perpecahan. Mereka yang ingin menolak keadilan beralih ke komunikasi untuk memperlemah.   Sebaliknya, mereka yang ingin menantang ketidakadilan, beralih ke komunikasi untuk memberdayakan. Merayakan dan mempertahankan budaya-budaya menjadi suatu cara memperkuat makna komunitas terkait nilai dan identitasnya. Para komunikator memiliki tanggungjawab untuk menciptakan citra-citra dan makna yangmenghargai nilai-nilai dan tradisi-tradisi yang hidup di jantung kehidupan orang-orang lain. Ia meminta para komunikator untuk menghindari stereotipe, memperkuat pemahaman antarbudaya dan antaragama dan mempromosikan komunitas-komunitas yang budaya-budayanya  hidup damai bersama, mengukuhkan apa yang dimiliki bersama dan apa yang memisahkan mereka. “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.” (Efesus  2: 14).

  1. Komunikasi Membangun Keterhubungan

 

Manusia diciptakan untuk menjalin hubungan dengan Allah, dengan sesamanya dan dengan seluruh ciptaan. Semua tatanan ciptaan memanggul citra Allah. Untuk alasan ini, kesejahteraan semua ciptaan adalah suatu fungsi  kesejahteraan setiap bagian dari ciptaan.

Dunia yang mengglobal dewasa ini terjerumus dalam berbagai konflik sosial, mulai dari konflik etnis hingga intoleransi beragama, kesenjarangan sosial antara kaya dan miskin, tantangan-tantangan keadilan iklim. Narasi-narasi media kontemporer, berakar pada keyakinan bahwa polemik menarik perhatian para pemirsa luas, cenderung semakin meruncing ketimbang meredakan ketegangan.

Dewasa ini, meningkatkan keterampilan berkomunikasi yang bergerak dari suatu pemahaman yang dimiliki bersama oleh umat manusia – saling keterhubungan mereka – sangat mendesak. Membangun keterhubungan melalui komunikasi mengukuhkan keunikan setiap orang dan komunitas: wajah-wajah, kisah-kisah dan pengalaman-pengalaman mereka. Dengan cara ini maka “sang liyan” tak sekadar dipandang sebagai satu set data, melainkan kehadiran seseorang yang bernilai dan yang perlu dimengerti. Ini menyiratkan: memberi ruang bagi sang liyan untuk menjadi diri mereka sendiri di mana mereka merasa bebas untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan.

Keterhubungan menekankan martabat manusia, potensi-potensi dan kreativitas, sebagaimana juga keterbatasan dan kerapuhannya. Ia menggugah kita untuk mencari bentuk-bentuk dialog dan aksi yang baru dan vital yang melampaui batas-batas agama dan ideology dan yang memberdayakan individu-individu dan komunitas-komunitas.

Komunikasi membangun keterhubungan, berarti menegakkan hubungan-hubungan kasih, peduli satu dengan yang lainnya dan ciptaan yang lebih luas, mengakui dan menerima pertanggungjawaban.

 

  1. Komunikasi Mengukuhkan Keadilan dan Menantang Ketidakadilan

 

Dalam dunia dewasa ini, segelintir korporasi dan individu yang berkuasa memutuskan suara-suara siapakah yang didengar dan gambar-gambar siapa atau siapa yang dilihat oleh publik, mengizinkan mereka membentuk kebijakan, mulai dari opini publik hingga menggerakkan orang-orang kepada perang atau perdamaian.

Dalam konteks ini, beberapa pekerja media, baik dalam media hiburan maupun berita, memberanikan  diri untuk menyuarakan kebenaran kepada kekuasaan, mengangkat kepedulian-kepedulian mereka yang tersingkir dan menafsir dengan perspektif bagaimana kekuasaan mengalir di dunia dewasa ini.

Para komunikator yang memahami surutnya dan aliran kekuasaan politik, ekonomi, dan budaya pada masa dan tempat tertentu, dapat menggunakan pandangan-pandangannya  untuk mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan mempertahankan martabat para janda dan anak-anak yatim-piatu, mereka yang terusir dan orang-orang asing.

Para komunikator juga dapat mewartakan Kabar Baik tentang bagaimana Allah bekerja di tengah-tengah kita untuk mengarahkan sejarah manusia menuju keadilan dan perdamaian. Pemahaman ini bisa bertahan lama hanya apabila kata-kata disertai dengan tindakan. Menantang ketidakadilan berarti menantang “kerajaan-kerajaan dan kekuasaan-kekuasaan” dan bisa menuntut suatu harga tinggi.

Komunikasi yang meneguhkan keadilan dan menantang ketidakadilan melayani kebenaran dan menerangi kepalsuan, sebab penipuan dan setengah-kebenaran mengancam kemaslahatan bersama. Ia juga merangsang kesadaran kritis tentang realitas-realitas yang dikonstruksikan oleh media, menolong rakyat mengidentifikasikan kepentingan-kepentingan khusus dan membedakan apa yang sementara dan kurang penting dengan yang  bernilai dan abadi.

Mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan penting bukan saja karena komunikator-komunikator bukan tanpa kesalahan, melainkan mereka berharap untuk membangun komunitas di sebuah dunia di mana orang-orang  mencoba memecah-belah.  Mereka mempromosikan partisipasi dan kebebasan di mana  orang-orang berupaya memperbudak dan membungkam, dan mempertahankan martabat manusia di mana orang-orang  mencoba menghancurkannya. Para komunikator menyuarakan kekuasaan karena mereka yang mengejarnya selalu, setiap waktu dan tempat, beresiko tergoda oleh kekuasaan itu sendiri. Bila hal itu terjadi, maka kekuasaan menjadi  agen kematian. Jika para komunikator bertugas melayani Allah Kehidupan, mereka harus meneguhkan keadilan dan berjuang melawan ketidakadilan.

 

Hak-hak Berkomunikasi, Komunikasi Untuk Semua

Dalam terang prinsip-prinsip tersebut di atas, dan meyakini bahwa komunikasi menjelmakan penghormatan kepada martabat, integritas, kesetaraan dan kebebasan bagi setiap manusia dan komunitas-komunitasnya, maka hak-hak berkomunikasi tercakup dalam semua hak-hak lain manusia.

Hak-hak berkomunikasi mengklaim ruang-ruang dan sumber-sumber di  ruang publik bagi setiap orang untuk terlibat dalam perdebatan yang transparan, informative dan demokratis. Mereka mengklaim akses kepada informasi dan pengetahuan yang penting untuk demokrasi, pemberdayaan, kewarga-negaraan yang bertanggungjawab dan tanggungjawab bersama. Mereka mengklaim lingkungan-lingkungan politis, sosial dan budaya yang mendorong pertukaran bebas keragaman gagasan-gagasan kreatif, produk-produk pengetahuan dan budaya.

Akhirnya, hak-hak berkomunikasi menekankan kebutuhan untuk menjamin keragaman identitas budaya yang secara bersama-sama memperluas dan memperkaya kebaikan umum.

Prinsip-prinsip komunikasi berjudul “Komunikasi untuk Semua” mengukuhkan kembali sentralitas komunikasi – termasuk media massa, media komunitas dan media sosial – dalam memperkuat martabat manusia dan mempromosikan nilai-nilai demokratis dan keadilan sosial. Secara khusus, prinsip “komunikasi bagi semua” membarui suara dan pelihatan kepada kelompok-kelompok yang rentan dan dirugikan dengan semangat solidaritas sejati.

Penerjemah

Rainy MP Hutabarat

Leave a Comment